Bianglala
Dan kegelapan yang sedari tadi menutup mataku menghilang. Dia melepas penutup mataku, lalu memberikan kacamataku. Setelah kupakai kacamataku, barulah dapat kulihat jelas apa yang di depan mataku. Sebuah merry go round yang bersinar dengan indahnya, dan dirimu yang tersenyum manis.
Tanpa sempat mengucapkan apapun, dirimu langsung menarik diriku menuju merry go round tersebut.
Sebuah taman bermain hanya untuk kita berdua, apa yang lebih indah daripada itu?
Kami pun mencoba segala wahana hingga lupa waktu. Mencoba untuk tidak berteriak di roller coaster, saling tarik menarik di arung jeram, mencoba berbagai kostum badut di sana, menaiki roller coaster lagi, balapan di rumah kaca, dan hingga sampai di wahana terakhir. Wahana yang kita berdua paling suka.
Bianglala.
Pada saat sebelum naik, kau tiba-tiba merajuk, memintaku untuk mencoba membatalkan niatku. Namun aku tetap bersikukuh untuk menaiki wahana tersebut, yah pada akhirnya kau pun ikut juga denganku.
Perlahan mesin bergerak, mengantarkan kita menuju puncak tertinggi. Kita berdua duduk saling berhadapan, menempel pada kaca hingga sebisa mungkin melihat pemandangan di luar. Tapi tak ada pemandangan saat itu, tak ada guratan senja warna warni seperti waktu itu, seperti 3 tahun lalu. Hanya kegelapan.
Kita berdua sibuk dalam pikiran masing-masing, menatap jauh ke kegelapan di sana. Entah apa yang kau pikirkan, namun saat itu aku tak mau mengganggumu, dan kamu memang terlihat menarik saat tengah gelisah seperti itu.
Sebentar lagi, kita akan tiba di puncak tertinggi dari lingkaran ini. Matamu semakin sembab, namun kau mencoba menahannya, lama sekali, entah dari kapan. Tapi kau tidak menatapku sama sekali, hanya berkutat dengan pikiranmu. “Tetap sama seperti 3 tahun yang lalu,” aku mencoba menghiburmu, namun hanya senyum kecil itulah yang keluar darimu. “Aneh, seharusnya kamu lah yang menangis,” katamu,melirikku sebentar, aku pun tersenyum lebar kepadamu, lalu kamu pun kembali sibuk melamun, mencoba sebisa mungkin membuat dirimu merasa bahwa aku tak ada di sini, di depanmu.
Ternyata kita sudah hampir mencapai bawah, namun tetap tidak ada pembicaraan yang terjadi. Mungkin semua obrolan, tawa dan canda sudah habis berlalu, sudah lelah menutupi ini, semua, hanya tinggal kesedihan yang menunggu untuk merangkak keluar.
Mesin pun berhenti, kita harus keluar dari lingkaran bianglala yang indah ini. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba engkau pun memelukku. Menangis dan menjerit, mengeluarkan semua kepedihan dirimu kepadaku, tanganmu melingkari pinggangku dan melilitnya dengan erat.
Kukecup keningmu, kutatap matamu, dan berkata, “Satu putaran lagi ya,” dan aku pun menuju keluar, menarik tuas untuk menyalakan mesinnya, dan berlari masuk kedalam lagi.
Mesin pun kembali bergerak, kini kita saling berpelukan, mencoba menenangkan diri masing-masing. Aahh, ini memang hadiah terbaik untukku. Perlahan suara-suara rantai, mesin, angin di jendela menciptakan sebuah ritme yang indah, hingga disela oleh suara batukku. Batuk yang keras dan tak berjeda. Batuk yang berwarna merah itu. Namun engkau tak menangis, engkau terus berusaha kuat, selalu berusaha untuk meyakinkan bahwa semua akan berubah, semua ini akan baik-baik saja.Di kaca, samar-samar kulihat, kepalaku yang sudah gundul bersih, tak menyisakan satu rambut pun.
Kubiarkan mataku tertutup, menyatu dengan kegelapan di luar sana.
Maaf sayang, satu putaran ini kutunda dulu ya.
————————————
Happiness is temporary, so does sadness
