Bianglala

Dan kegelapan yang sedari tadi menutup mataku menghilang. Dia melepas penutup mataku, lalu memberikan kacamataku. Setelah kupakai kacamataku, barulah dapat kulihat jelas apa yang di depan mataku. Sebuah merry go round yang bersinar dengan indahnya, dan dirimu yang tersenyum manis.

Tanpa sempat mengucapkan apapun, dirimu langsung menarik diriku menuju merry go round tersebut.

Sebuah taman bermain hanya untuk kita berdua, apa yang lebih indah daripada itu?

Kami pun mencoba segala wahana hingga lupa waktu. Mencoba untuk tidak berteriak di roller coaster, saling tarik menarik di arung jeram, mencoba berbagai kostum badut di sana, menaiki roller coaster lagi, balapan di rumah kaca, dan hingga sampai di wahana terakhir. Wahana yang kita berdua paling suka.

Bianglala.

Pada saat sebelum naik, kau tiba-tiba merajuk, memintaku untuk mencoba membatalkan niatku. Namun aku tetap bersikukuh untuk menaiki wahana tersebut, yah pada akhirnya kau pun ikut juga denganku.

Perlahan mesin bergerak, mengantarkan kita menuju puncak tertinggi. Kita berdua duduk saling berhadapan, menempel pada kaca hingga sebisa mungkin melihat pemandangan di luar. Tapi tak ada pemandangan saat itu, tak ada guratan senja warna warni seperti waktu itu, seperti 3 tahun lalu. Hanya kegelapan.

Kita berdua sibuk dalam pikiran masing-masing, menatap jauh ke kegelapan di sana. Entah apa yang kau pikirkan, namun saat itu aku tak mau mengganggumu, dan kamu memang terlihat menarik saat tengah gelisah seperti itu.

Sebentar lagi, kita akan tiba di puncak tertinggi dari lingkaran ini. Matamu semakin sembab, namun kau mencoba menahannya, lama sekali, entah dari kapan. Tapi kau tidak menatapku sama sekali, hanya berkutat dengan pikiranmu. “Tetap sama seperti 3 tahun yang lalu,” aku mencoba menghiburmu, namun hanya senyum kecil itulah yang keluar darimu. “Aneh, seharusnya kamu lah yang menangis,” katamu,melirikku sebentar, aku pun tersenyum lebar kepadamu, lalu kamu pun kembali sibuk melamun, mencoba sebisa mungkin membuat dirimu merasa bahwa aku tak ada di sini, di depanmu.

Ternyata kita sudah hampir mencapai bawah, namun tetap tidak ada pembicaraan yang terjadi. Mungkin semua obrolan, tawa dan canda sudah habis berlalu, sudah lelah menutupi ini, semua, hanya tinggal kesedihan yang menunggu untuk merangkak keluar.

Mesin pun berhenti, kita harus keluar dari lingkaran bianglala yang indah ini. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba engkau pun memelukku. Menangis dan menjerit, mengeluarkan semua kepedihan dirimu kepadaku, tanganmu melingkari pinggangku dan melilitnya dengan erat.

Kukecup keningmu, kutatap matamu, dan berkata, “Satu putaran lagi ya,” dan aku pun menuju keluar, menarik tuas untuk menyalakan mesinnya, dan berlari masuk kedalam lagi.

Mesin pun kembali bergerak, kini kita saling berpelukan, mencoba menenangkan diri masing-masing. Aahh, ini memang hadiah terbaik untukku. Perlahan suara-suara rantai, mesin, angin di jendela menciptakan sebuah ritme yang indah, hingga disela oleh suara batukku. Batuk yang keras dan tak berjeda. Batuk yang berwarna merah itu. Namun engkau tak menangis, engkau terus berusaha kuat, selalu berusaha untuk meyakinkan bahwa semua akan berubah, semua ini akan baik-baik saja.Di kaca, samar-samar kulihat, kepalaku yang sudah gundul bersih, tak menyisakan satu rambut pun.


Kubiarkan mataku tertutup, menyatu dengan kegelapan di luar sana.

Maaf sayang, satu putaran ini kutunda dulu ya.

————————————

Happiness is temporary, so does sadness

ULTIMATE WORDS.

If you ask yourself why ARTISTS  (DJs, singers, dancers, musicians or anyone who falls under the artist category) charge “so much” for performances… 
We don’t get paid vacation, we don’t get paid sick days, we don’t get bonuses for outstanding performances nor for Christmas. We don’t have insurance plans nor do we qualify for unemployment. We sacrifice our family on special days so that we can bring happiness to others. Illness or personal affairs are not excuses for a bad performance. Next time you ask, remember that ARTISTS are ARTISTS because of the love of music & art but that love doesn’t pay debts.

- Antonio Faria

senjaituberwarnaabu:

“iseng”

i love the little boy drawing.

(Reblogged from senjaituberwarnaabu)

Corner of The Earth

Ujung dunia.

Bagaimanakah rasanya bila kita sudah mencapai sana.

Itulah yang selintas terbesit di kepalaku.

Saat suara Jamiroquai melantun pelan dari earphoneku…

Kuperhatikan dengan jelas liriknya

This corner of the earth is like me in many ways

I can sit for hours here and watch the emerald feathers play

Dalam impuls imajinasiku, kubayangkan sebuah hamparan padang rumput tanpa ujung.

Dimana yang kulakukan hanyalah duduk dan menikmati keindahan dunia yang terpampang di depan mata.

————

Kututup mata dan kubayangkan.

Padang ilalang hijau tanpa batas, Apakah ini yang kau lihat wahai Jamiroquai?

Aroma laut asin entah dari mana, apakah kau merasakan hal yang sama juga?

Desiran angin yang melewati ujung telingamu dan menggerakkan dunia di sekitarnya, apakah kau dengar ini juga wahai Jamiroquai?

Atau berada di dermaga, menikmati setiap air yang melewati jemari kakimu.

Ataukah itu semua hanya bayanganmu saja? Aku tak pernah tahu.

————

Dan terlintas lah mimpi-mimpiku sewaktu dulu

Mimpiku untuk pergi menjelajah, melihat dunia seluas mungkin, mendapatkan hal-hal baru disekitarku, bahkan mungkin sampai di sebuah ujung dunia.

Aku ingat, diriku yang begitu naif untuk melihat seluruh dunia.

Diriku yang sewaktu kecil malah meminta Globe sebagai ulang tahunku, lalu kuputar bola dunia itu dan saat kudapatkan jari telunjuk mungilku menyentuh sebuah negara, kubayangkan diriku berada disana.

Terbang seperti burung-burung itu, hingga langit menjadi batasannya.

Mimpiku yang sekian lama terkubur itu.

I know this corner of the earth it smiles at me
So inspired of that there’s nothing left to do or say
Think I’ll dream, ‘til the stars shine

Apakah ini kebahagiaan sejati yang dicari para manusia itu?

Saat bahkan ujung dunia pun menyambut kedatangan kita

Kudengarkan dendangmu yang sangat bahagia, seperti anak kecil yang bernyanyi di taman bermainnya.

Biarlah…

biarlah kudengarkan lagu ini berulang kali. Biarlah ujung dunia ini hanya terpendam dalam kotak imajinerku.

Biarlah…

dan teruslah bernyanyi Jamiroquai

hingga menggaung di dinding kamarku.

Dan diriku pun terus bertanya..

kapankah kudapatkan ujung duniaku? 

Jakarta, 05.12 malam. 20 Oct 2011.

Lullaby.

Ada sesuatu saat kupandangi jalanan itu.

Saat kulihat jalanan ibukota yang semakin kosong.

Saat kupandangi refleksi diriku di kaca ini.

Saat kulihat punting rokokku yang semakin memenuhi asbak ini.

Saat kupandangi orang-orang yang berdiskusi di depanku.

Ada sesuatu.

Yang membawaku hingga ke sini.

Ke kedai kopi kecil ini.

Aku tak pernah tahu.

Rasa apakah ini?

Apakah tangan kehidupan yang membawaku kesini.

Ada sesuatu.

Saat kulihat jalanan yang semakin kosong itu.

Dan kembali, rasa sunyi ini membunuhku.

-the pict above i grab from d.a, i just like it and want to make a poet from this pict. Sorry for the photographer. -

Midnight Train

Apa yang kau cari?

Pria di depanku itu melontarkan pertanyaan seperti itu.

Aku hanya termenung, tak menjawabnya.

Hanya memandangi kegelapan malam yang pekat di luar sana.

Menikmati riuhnya deru mesin kereta ini.

Namun hanya itulah satu-satunya musik yang aku dengar.

Dan pikiran pun kembali melambung.

Melambung ke dunia antah berantah dimana segala pertanyaan saling bermunculan tanpa henti.

Apa yang kau cari?

Itulah pertanyaan yang selalu mengusikku.

Kenyamanan, tentu.

Kebahagiaan, pasti.

Bukankah itu semua ada di istana terpencil mu?

Istana yang dipenuhi buah-buahan yang tinggal kau petik.

Lalu apa lagi?

Dia pun kembali menatapku. Kini wajahnya semakin mendekatiku, seolah menantangku untuk dapat menjawabnya dengan lugas.

Bagaimana kalau saat kau turun kereta, saat kau sampai di tempatmu,ternyata tak ada apa-apa.

Hanya tanah gersang tanpa harapan.

Bagaimana kalau ternyata kau tak akan sampai tujuan? Dan kereta ini berhenti terus untuk selamanya.

Aku melihatnya sekilas. Dan menatap kembali ke jendela.

Melihatnya bagai jutaan kenyataan yang terus menusukku dengan pisaunya.

Lihat dirimu. Kau membuang banyak waktu hanya untuk pencarian itu. Blah!

Menyesalkah engkau?

Ya,  pertama aku menyesal.  Memang harusnya banyak yang aku nikmati dan ketahui, namun aku tersesat dalam kebimbangan itu.  Namun itulah mengapa aku berhenti sejenak di stasiun untuk menikmatinya.

Sudah kubilang, itu hanya mimpi belaka! Kebohongan yang kau buat sendiri! Penghiburan untuk jiwamu yang sepi!

Aku pun menyalakan sebatang rokokku.   Beberapa menit lagi kereta akan sampai di stasiun sementara.

Dan dia pun semakin berteriak lantang.

Lihat dirimu, pecundang! Pengkhayal! Pemimpi! Kau juga tahu bahwa yang disana adalah kehampaan juga! Kekosongan!  Kau hanya membuang waktumu! Tolol! Imbisil! Naif!

Sebentar lagi saat kau turun, kau mungkin akan kerampokan ! Kecopetan!  dan mereka tidak pernah peduli siapa dirimu! Kau jadi bangkai disana! Mayat tak berarti!!

Aku tak membalasnya.

Kereta pun berhenti.

Aku langsung mengambil tasku di atas dan pergi meninggalkannya. Sementara dia masih duduk disana, berteriak di belakangku.

Oh, lihat betapa tololnya dirimu, meninggalkan segala kenyamanan yang bisa kau dapatkan dengan mudah! Kau hanya akan hancur di sana!Lihat saja, kau akan hancur dan merengek kembali kesini!!

Teriakannya begitu menggelegar. Menggema dari satu kompartemen ke kompartemen lainnya.

Aku hanya tersenyum kepadanya dan menjawab singkat.

Aku tak pernah menanti akan sebuah jawaban di ujung sana. Aku hanya menikmati pencarian ini. Mungkin aku akan berhenti saat aku sudah merasa puas.

Kini dia yang tak bisa berkata-kata. Dia hanya menggeleng pasrah tak mengerti.  Kemudian dia pun lenyap begitu saja. Namun kulihat sesaat, dirinya tersenyum kepadaku.

Second chance.

Kesempatan kedua?

Semua selalu bilang akan hal itu. Baik dalam kehidupan dan percintaan.

Kesempatan kedua adalah sebuah kesempatan untuk kita mengambil kembali apa yang telah kita inginkan kembali. Dan percayakah, bahwa kesempatan kedua adalah suatu keberuntungan untuk kita, karena itu adalah kesempatan yang telah kita pilih sendiri.

Tidak seperti kesempatan yang dulu mendatangi kita, saat kita masih belum memahami semua, saat diri kita hanyalah sekumpulan kegelisahan yang terus menghantui kita, hingga kita membiarkannya pergi begitu saja.

Karena kita manusia. Kita dituntun untuk melakukan kesalahan terlebih dahulu, sehati-hati apapun dirimu itu. Sehingga kita belajar banyak, mempertimbangkan kembali, dan kembali mensyukuri hal tersebut, sehingga… kesempatan kedua itu pun menjadi sangat mahal.

Namun pertanyaannya. Kesempatan kedua itu apakah datang sendiri atau kita yang membuatnya?

Bila saya mengambil sebuah keputusan sekarang, sebuah keputusan yang mungkin akan merubah kehidupan saya di masa mendatang, apakah itu berarti saya telah menciptakan kesempatan kedua bagi saya sendiri, atau malah membuat…

kesalahan kedua.

sulit.

hingga sekarang aku belum menemukan jawabannya…kapan engkau akan muncul?

sincerely. me.

Silly Little Thing

Inspired by the new song from Sore -Silly Little Thing.

  Aku meletakkan kardus terakhir ke dalam mobil pengangkut barang. “Sudah, gak ada barang lagi nih?,” tanyaku. “Nggak, itu udah yang terakhir!,” kau pun menyahut dari dalam. Aku pun langsung menutup pintu belakang mobil boks tersebut, lalu memberikan uang dan kertas berisi alamat kepada supirnya. Beberapa detik setelah mobil boks itu pergi menjauh, aku sempat memandanginya sebentar. Lalu kulangkahkan kakiku lagi untuk masuk ke dalam. 

  Dan saat itulah, aku melihatmu. termenung sejenak memandangi ruangan kosong itu. Beberapa furniture yang beberapa kau kembalikan ke rumah orangtuamu atau ada juga yang kau bawa. Kemana? Jakarta, jawabmu. Untuk apa lagi? Aku mendapat kesempatan sebagai chief fashion editor di majalah ternama. Bagaimana bisa ditolak?! Yah, itu memang mimpimu, kataku, hanya dalam batin.

  Demikianlah obrolan kita ,yang berlangsung persis di tempat yang sama hanya saja berbeda waktu. Persis di atas sofa merah usang ini. Sofa merah yang menjadi satu-satunya furniture yang tersisa di sini. Aku menatapmu sejenak, lalu tiba-tiba, “Eh, aduh gw lupa, ada sepatu yang harusnya gw pakai buat acara promosi nanti! Ahh, mobilnya belum jalan kan?!,” dan kau pun langsung pergi keluar, tanpa sempat untuk mendengarkan jawabanku.

  Lalu kulihat, dirimu yang berhenti di ambang pintu, kecewa karena sudah tidak ada mobil boks itu di luar. Dan saat kau berpaling pun, kulihat muka kecut itu. Sebuah pemandangan biasa yang kulihat saat dirimu menyadari kebodohanmu. Namun kali ini, aku tertawa. Tertawa sekencang-kencangnya melihat itu. Entah kenapa.

————

Ingatkah kamu? Pada saat kita selalu menonton DVD bersama saat kita tidak mempunyai uang yang cukup, dan kita selalu berdebat kecil masalah film yang harus disewa?

Ingatkah kamu? saat engkau tertidur di sofa, lalu berteriak panik karena ternyata sofa itu terbakar karena puntung rokokmu itu?

Ingatkah kamu? Saat engkau ingin memberikan sebuah kue blackforrest sebagai hadiah ulangtahunku, dan tiba-tiba kue itu terjatuh dan mendarat mulus di kakimu. Namun aku tidak marah, hanya tersenyum kepadamu. Kita pun membersihkan hal tersebut berdua. 

Ya itulah, hal-hal kecil yang selalu menjadi kenangan manis bagiku.

Tapi kau selalu mengeluh dan berteriak kepadaku. Atas dirimu sendiri yang tidak pernah puas. Atas diriku yang tidak pernah mengerti dirimu. Kau yang selalu bergerak seefisien dan secepat mungkin sementara aku yang selalu kau bilang terlalu santai dan penuh pertimbangan dalam bekerja. Kita terlalu banyak perbedaan, demikianlah pembelaanmu.

———————— 

  Kau tetap dengan muka kecutmu itu. Berjalan kembali ke arah sofa dan mendaratkan tubuhmu yang mungil ke atas sofa ini. Sebuah sofa yang sudah ada di sini semenjak kau baru memasuki rumah kontrakan ini. Warna merah beludrunya yang manis membuatmu tak ingin membuang sofa tersebut, hingga kini menjadi satu-satunya furniture kesayanganmu. Keputusan untuk membiarkannya tetap berada di sini sangatlah tepat, mungkin sofa tersebut memang sudah sepantasnya berada di sini terus.

  Kau menghela nafas sekali lagi. Menatap kosong ke sudut-sudut di ruangan itu. Entah apa yang kau pikirkan, tapi mungkin kau masih enggan untuk meninggalkan tempat ini, kota ini.

  Sekilas kau mengumpulkan segenap kemampuan, lalu mengangkat tubuhmu. “Aku pergi dulu,” katamu seraya mengambil tas genggammu itu.

  Dengan perlahan kau berjalan ke arah pintu dan entah mengapa saat itu semua menjadi terasa sangat lambat.

Kamu tahu? Malam nanti, aku telah mempersiapkan sebuah candle light dinner untuk perpisahanmu hari ini. Di rooftop, seperti mimpimu yang selalu kau ucapkan dan tak pernah tersampaikan itu. Aku telah mempersiapkannya bahkan hingga semua hal yang detail. Warna dan jumlah mawar yang nanti aku berikan, lagu apa yang kira-kira harus kuputar sepanjang jalan menuju ke sana, pakaianku yang untuk sekalinya mungkin dapat kau bilang dengan kata kebanggaanmu itu, “modis” Semuanya, hanya untuk mencapai kesempurnaan demi satu tujuan ….

  Namun, tubuhku ternyata berkhianat. Aku langsung menggenggam erat tanganmu kencang dan tidak membiarkan untuk melanjutkan langkahmu lagi. Kau pun tersentak, dan kaget melihatku duduk bersimpuh di depanmu. Kau mencoba membuatku melepaskan tanganmu, namun tanpa ucapan hanya dengan tatapan aku meyakinkanmu untuk sekali saja, menuruti diriku. Dan kukeluarkan benda cantik itu dari saku celanaku. Sebuah benda yang seharusnya kukeluarkan nanti malam, sebuah cincin permata yang kuberikan bersamaan dengan suatu permohonan tulusku.

  Yah, aku melamarmu, tanpa ada konfeti yang bertebaran, kembang api yang meledak bergantian, lilin-lilin yang menyala syahdu di sekitar ataupun sebotol wine yang manis. Tidak ada romantisme seperti itu, hanya ruangan kosong dan sebuah sofa usang yang menatap kita.

  Ya, kau dapat memakiku dengan ucapan bodoh atau konyol.

  Apa yang aku pikirkan? Aku yang selalu banyak pertimbangan ini, mencintai dirimu yang sering seenaknya bahkan seringkali ceroboh? Aku yang terlalu santai ini, mencintai dirimu yang bergerak cepat dan dinamis? Aku yang lebih banyak menghabiskan waktu sendirian ini, mencintai dirimu yang dengan mudah meloncat dari satu pria ke pria yang lainnya? Kita terlalu banyak berbeda.

  Namun biarlah, aku tidak pernah peduli itu, walau memang sulit, namun biarkan kita hidup hanya untuk hal-hal kecil itu, untuk segala kebodohan yang kita selalu buat, dan bagiku itu sangatlah cukup, untuk menjadi arti sebuah kebahagiaan.

  Dan ternyata kau pun sama bodohnya. Kau tersenyum, mengelus pipiku dan mengangguk pelan.

Terimakasih.

————————-

- Kadang kita terjebak dengan hal-hal besar di depan kita hingga kita akhirnya lupa akan hal-hal kecil yang terkadang jauh lebih berharganya dari itu semua -

Bagaimana jika…

seekor babi bermimpi memiliki sayap untuk terbang menuju angkasa?

Apakah Tuhan akan menghukumnya karena menyalahi hukum alam?

Cerita kecil di pinggir kereta

Jakarta

Namaku adalah Lingga. Dan aku seorang pelacur.Ya, aku dengan lantang mengatakannya seperti kamu yang berkata bahwa dirimu tampan. Dan aku tidak menambahkan kata bekerja di antara empat kata itu. Karena kalau aku bilang, aku bekerja sebagai seorang pelacur, berarti aku mempunyai kehidupan lain.

Tapi, tidak. Karena memang itulah aku. Mengapa?

Ya,mungkin ini semua berawal dari ibuku, dia bernama Swanggaheni. Aku tidak pernah tau dari mana nama itu berasal, atau bahkan dari mana keluarga ini berasal. Yang kutahu pasti, hidupku berawal di pinggiran rel kereta, dan mungkin hidupku akan berakhir di sini jua. Bapakku bernama Tarmin, dan dari dialah bibit itu berasal. Sedariku kecil, dia sangat merawatku dan selalu mengatakan bahwa aku akan menjadi gadis tercantik di kampung ini. Terkadang dia sering menyisirku dengan lembut, lalu memperhatikan dengan lama pantulan wajahku di genangan air.

Hingga akhirnya kutahu, semua belas kasih dia bertujuan untuk satu hal, menjualku. Dan saat aku telah berusia 15 tahun, saat payudaraku sudah mulai tumbuh, dia memberikanku kepada seorang pria mesum dan aku tidak pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya. Bapakku sangat senang, sehingga dia pun lalu pergi dengan membawa uang tersebut. Namun dia tidak pernah kembali lagi, hanya meninggalkan dua lembar uang berwarna biru di atas meja.

Lalu bagaimana dengan Ibuku? Ternyata dia juga sama. Seingatku sebelum Bapak pergi, setiap malam minggu, Ibuku selalu pergi dengan pakaian terbaiknya, dan baru pulang saat menjelang subuh. Bahkan setelah itu, mereka bersenggama lagi, dan erangan-erangan itu baru usai biasanya saat matahari sayup-sayup masuk melewati celah kaca. Dan setelah itu, Bapak biasanya muncul dari balik selembar tirai yang menutupi mereka dan mengecup keningku. Dia selalu berkata, “Kamu itu pasti bakal hebat kayak ibumu itu!” 

“Ah, dasar si bajingan itu. Memang hanya mau enaknya saja,” batinku mengutuki sang Bapak.

Dan sekarang aku baru menyadari darimana asal keahlianku itu. Kata orang yang pernah bersenggama denganku, genjotanku paling tokcer, kempotanku paling mantep, yah mungkin itu memang berasal dari Ibuku.

Kini aku sudah berusia 20 tahun, sudah 2 kali menggugurkan, dan disegani oleh orang-orang sekitar karena akulah pelacur paling dicari di daerah sini, sementara kubiarkan Ibu menjual minuman dan gorengan kecil itu terhadap para pelangganku. Terkadang sih, dia masih melayani juga beberapa orang pelanggan tetapnya. Uangnya gede dan gak minta macam-macam, itu saja alasannya. 

Sering aku bertanya, kapankah Ibu akan berhenti. Dirinya telah tua dan kutahu dia tak mau mati dengan menanggung dosa seperti itu. Tapi, yah, dirinya, atau mungkin aku jua, memang sudah ditakdirkan seperti ini. Ibuku bukan orang yang kafir, dia juga rajin menunaikan ibadahnya, namun rutinitas badaniahnya semenjak dulu membentuk gejolak tak terbendung tersendiri, sehingga dia pun tetap saja meladeni godaan dari beberapa pelanggannya, apalagi kalau sudah yang berkumis dan gempal.Tubuhnya pun mengkhianati dirinya sendiri.

Di hidupku, agama hanyalah sebatas pelajaran saja. Aku tidak bisa menghafal semua nama-nama utusan Allah, atau segala hadits-hadist yang rumit itu. Yang kutahu hanyalah Nabiku Muhammad, aku ini memiliki Tuhan yang kunamakan Allah, dan yang terpenting adalah aku menjalankan hidupku tanpa merugikan orang lain. Malah aku memuaskan mereka. 

Perihal dagingku yang telah menjelajah banyak tempat ini, memang sering menjadi pertanyaan tersendiri bagiku. Terutama saat bulan-bulan Ramadhan, melihat gadis-gadis berjilbab yang manis itu mendatangi mushalla berduyun-duyun, membuatku bertanya, apakah yang kulakukan ini salah. Tapi bagaimana ,selama ini aku tak pernah memiliki kehidupan yang enak, selain dari hasil penjualan tubuhku ini. Yah mereka, gadis-gadis berjilbab itu mereka mendapatkan kemewahan itu, duduk di kelas mengenyam pendidikan. Sementara, kehidupan di sekitarku? Yang laki-lakinya saja lebih senang untuk bergerumul meminum kecubung atau tuak daripada melangkahkan kaki mereka ke mushalla.

Sementara aku sendiri? Siapa bilang jadi pelacur itu tidak enak? Aku malah menikmatinya. Impuls-impuls syaraf yang bergetar saat sepasang kelamin saling bergesekan, hingga hampir memecahkan ubun-ubunku. Setelah usai, bahkan tubuhku pun meronta untuk melanjutkan kembali. Aku ketagihan, dan permainan pun dimulai lagi dan lagi. Ah, Ibu, kamu pasti bangga denganku.

Akhirnya aku pun mendapatkan pembenaran sendiri. Ya, aku memang terlahir seperti ini. Inilah aku. Inilah identisifikasi atas diriku. Inilah kebanggaanku.

Aku seorang pelacur.

Dan ini terbukti dari namaku, Lingga, yang adalah simbol dari alat kelamin laki-laki.

——-